BUAH KESERAKAHAN

Oleh : Amik Widyawati, S.Pd*

Di sebuah hutan pinggiran sungai menjadi tempat tinggal sekelompok binatang. Di sana ada seekor kelinci, ayam hutan, harimau, dan burung pipit. Suatu hari induk ayam menetaskan lima ekor anak ayam. .”Alhamdulillah, anak-anakku menetas dengan selamat.”kata induk ayam berucap syukur.

 Semua penghuni hutan merasa bahagia atas kehadiran anggota baru, yaitu lima ekor anak ayam.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, takterasa anak ayam sudah berumur 1 bulan. Mereka sudah bisa bermain dan mencari makan sendiri. Hingga di suatu saat ketenangan di hutan mulai terusik, dengan kedatangan buaya di sungai itu. Buaya itu besar, bergigi runcing dan tajam, ia terkenal serakah.

Pagi itu anak-anak ayam berpamitan pada induknya untuk bermain di tepi sungai.”Jangan anakku, bermain di tepi sungai itu sangat berbahaya!”ungkap induk ayam.”Ayolah bu..! Ayolah!”rengek anak-anak ayam memelas”Baiklah kalau kalian memaksa, tapi ingat jangan terlalu dekat ke sungai, karena sungai itu dihuni buaya besar!”pesan induk ayam kepada anaknya.Sesampainya di tepi sungai anak-anak ayam itu asyik mengais-ngais tanah untuk mencari cacing di pinggir sungai, sampai lupa nasihat ibunya. Sambil bermain mereka menceburkan kakinya ke air. Mereka tak sadar ada sepasang mata tajam mengintainya. Namun, tiba-tiba terdengar gemuruh air dari dalam sungai, ternyata buaya itu muncul ke permukaan. “Hap… hap..” tiga ekor anak ayam sekaligus dilahapnya.”Kiyek…kiyek…”teriak anak ayam yang lain. Mereka tak sempat berlari. “Hap..hap..” dua ekor anak ayam menjadi santapan buaya serakah itu. “Hem..lezat sekali daging anak ayam ini!”gumam buaya dalam hati. Tanpa sengaja kejadian itu disaksikan burung pipit yang kebetulan melintas di atas sungai.

Sementara itu induk ayam mulai merasa cemas. “Aduh, anak-anakku kemana ya?””Sudah sore tapi belum kembali!”gumamnya dalam hati. Dengan berlinang air mata induk ayam berjalan ke sana kemari mencari anaknya. Di tengah perjalanan ia bertemu kelinci. “Hai, kelinci kamu tahu dimana anak-anakku?”tanya induk ayam. “Tidak tahu” jawabnya. Induk ayam berjalan lagi mencari anak-anaknya. Akhirnya induk ayam bertemu si raja hutan. “Hai. Harimau yang baik hati, kamu tahu dimana anakku?” Harimau itu menggeleng pertanda tidak tahu. Induk ayam mulai gelisah, hampir semua penghuni hutan tidak tahu kemana anak-anaknya pergi. 

Dari kejauhan tampak si kancil sedang duduk santai di bawah pohon. Induk ayam berharap si kancil dapat membantunya, karena kancil dikenal binatang yang sangat cerdik.  Tanpa pikir panjang ia mengadu pada si kancil. Dia menceritakan kejadian yang dialaminya. Tiba-tiba datanglah burung pipit menghampiri. Dengan nafas tersengal-sengal burung pipit bercerita”Anakmu..hah..anaknu..hah…””Tenang pipit!Ada apa?”kata kancil menenangkannya.”Kelima anakmu dimangsa buaya, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.”jelas pipit pada induk ayam.”Oh, anakku”tangis pun akhirnya pecah.”Tenang induk ayam, aku akan mencari ide untuk membalasnya”si kancil meyakinkan.”Esok pagi kita menuju ke sungai untuk memberi pelajaran pada buaya serakah itu.”lanjut si kancil. Induk ayam pun mulai tersenyum lega, akhirnya ada yang mau membantunya. Selang beberapa menit kemudian si kancil sudah menemukan ide,hadiah apa yang  pantas untuk buaya itu. 

Keesokan harinya induk ayam dan kancil berangkat menuju ke sungai, tak ketinggalan burung pipit pun turut serta. Sesampainya di tepi sungai. “Halo buaya, dimana kau?”teriak kancil. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan buaya. Mungkin buaya itu masih tidur pulas. Si kancil mulai memberanikan diri untuk mendekat, dan ia berkata”Hai buaya, aku punya hadiah untukmu.” Mendengar akan mendapat hadiah, tiba-tiba buaya itu bangun dan mengibaskan ekornya di air, lalu berkata “Ada apa kancil?Kau mengganggu tidurku saja.”jawab buaya kesal.”Sudah kubilang, aku punya hadiah untukmu.”jawab kancil.”Apakah hari ini kamu sudah dapat mangsa?”lanjut kancil.”Belum,perutku lapar”jawab buaya.”Nah kebetulan, kau tak perlu khawatir aku sudah mempersiapkan makananmu.”ujar kancil. Sambil memperhatikan deretan gigi buaya yang tajam dan runcing itu. “Ayo, sekarang buka lebar-lebar mulutmu!”perintah kancil. “Aku akan melempar hadiah ini dari sini”lanjutnya. Tanpa ragu-ragu buaya itu membuka mulutnya siap untuk menerima hadiah dari kancil. Dengan sigap kancil langsung melempar bungkusan itu tepat di mulut buaya. Tiba-tiba terdengar teriakan kesakitan dari mulut buaya itu. “Aduh, sakit..,aduh, sakit!”rintihnya dengan mulut bersimbah darah.”Rasakan duri-duri itu, pergi jauh kau dari sini, dasar buaya serakah!”usir kancil pada buaya.”Ampun kancil, aku janji tidak akan makan anak ayam lagi, ampun…aku akan pergi!”teriak buaya. Sambil lari terbirit-birit meninggalkan hutan.

Pesan dari cerita ini adalah:

Patuhilah nasihat orang tua, karena semua demi kebaikan kita

Bantulah orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.

Janganlah hidup rakus/serakah, karena akan fatal akibatnya.

 

*Biodata Penulis

Nama lengkapnya Amik Widyawati. Penulis masih aktif mengajar di SDI Luqman Al Hakim Sumenep.

 

 

 

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.