KONSEP BELAJAR DALAM PERSEFIKTIF ALIRAN FILSAFAT RASIONALISME (RENE DESCARTES 1596-1650)

Penulis : Ach. Jazuli*

Manusia adalah makhluk yang diberikan keistimewaan serta bekal hidup yang luar biasa oleh Allah SWT. Manusia dibekali akal fikiran dan hati yang berfungsi mengelola sistem kehidupan (Azmi, 2018). Ibnu ‘Arabi menggambarkan keunggulan manusia dengan mengatakan “tidak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada manusia, karena manusia memiliki daya hidup seperti mengetahui, berkehendak, berfikir dan memutuskan” (Al-Faruq, 1984). Namun, kelebihan tersebut tidak untuk menjadikan manusia diam dan tidak mengasah kemampuan untuk mengamati fenomena alam nyata. Manusia dilengkapi dengan sifat kodrati yaitu mempunyai rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu  tersebut  tidak  terbatas pada apa yang ada dalam dirinya sendiri tetapi juga lingkungan dan kehidupan. Rasa ingin tahu membawa manusia pada potensi pengembangan diri secara maksimal melalui hal-hal yang dirasakan, dilihat, dan didengar, semua hal ini merupakan sumber dalam bidang pengetahuan. 

Memahami realitas paradigma pendidikan yang beragam dan berkembang dalam kebudayaan manusia sama saja dengan memahami eksistensi manusia itu sendiri, karena suatu sistem pendidikan tidaklah lahir melainkan melalui proses dimana manusia belajar memahami dirinya dan kemudian bertumbuh. Perkembangan pendidikan dengan berbagai bentuknya kemudian sangat dipengaruhi oleh paradigma manusia dalam memahami keberadaannya dalam kehidupan.

Paradigma (paradigm) dapat dipahami bermacam-macam sesuai dengan sudut pandang masing-masing orang. Paradigma merupakan suatu citra yang fundamental dari pokok permasalahan dari suatu ilmu. Paradigma menggariskan apa yang seharusnya dipelajari, pernyataan-pernyataan apa yang harus dikemukakan dan kaidah- kaidah apa yang harusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperolehnya. Dengan demikian, paradigma ibarat sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya (world view). 

Mengenal ilmu pengetahuan merupakan kegiatan pokok manusia yang selalu mengalami perkembangan dan kemajuan (Karim, 2014). Ilmu pengetahuan merupakan hasil dari proses berfikir disertai pengamatan dari seluruh indera manusia hingga sampai pada kesimpulan yang disebut pengetahuan (Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, 2009). Manusia memiliki curiosity (perasaan ingin tahu) disertai rasa ragu dalam mengenal sesuatu, hal ini sudah menjadi karakter dan sifat yang ada dalam diri manusia (Bayu Purbo Asmoro, 2019). Curiosity akan membawa manusia pada seluruh pengetahuan, yaitu berupa ilmu yang bersifat kealaman yang bisa diamati (empiric) dan ilmu yang non-empirik atau ilmu metafisik yang diakui keberadannya sebagai ilmu.

Manusia berbeda dengan makhluk lainnya yang hidup di bumi dan alam materi yang sama. Manusia memilki sikap ilmiah dalam memperoleh pengetahuan. Setiap kesempatan mendapat hal-hal yang baru dan mengalami kejadian-kejadian, dan gejala-gejala yang bersentuhan dengan kehidupan dalam bermasyarakat, manusia senantiasa ingin segera mengetahuinya. Ini merupakan dorongan akal manusia yang terus peka terhadap sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Sering bertanya apa ini dan itu, pertanyaan tersebut ialah wujud dari keingintahuan manusia terhadap segala hal yang dialami secara langsung maupun tidak. Hal ini membuka cakrawala pengetahuan baru dan inovanif, sungguh keingintahuan manusia merupakan sebuah rahmat yang dahsyat.

Perbedaan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya ditandai oleh kemampuan manusia memiliki pengetahuan. Manusia sering merumuskan hipotesis-hipotesis atau teori tentang sifat dasar suatu hal dan mengujinya dengan cara pengamatan dan percobaan untuk mendapatkan hasil yang benar (Banasuru, 2013). Hasrat keingintahuan dijadikan prinsip dalam naluri paling dasar bagi manusia, yakni naluri mencari kebenaran atau pengetahuan yang tak terhingga dan tak terpuaskan.

Dalam tataran filsafat, sebuah pengetahuan tidak dapat diterima begitu saja. Karena setiap persoalan yang telah menjadi pendapat umum harus dapat diuji dan memiliki dasar argumentasi yang diterima secara rasional.

Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalisme suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir.

Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (scholastic), yang pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu mengenai hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi.

Rene Descartes disamping tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak filsafat, terutama karena dia dalam filsafat-filsafat sungguh-sungguh diusahakan adanya metode serta penyelidikan yang mendalam. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran. Ia yang mendirikan aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercayai adalah akal. Ia tidak puas dengan filsafat scholastik karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada kepastian.

Rene Descartes mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Seakan-akan ia membuang segala kepastian, karena ragu-ragu itu suatu cara berpikir. Ia ragu-ragu bukan untuk ragu-ragu, melainkan untuk mencapai kepastian. Adapun sumber kebenaran adalah rasio. Hanya rasio yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Rasio pulalah yang dapat memberi pemimpin dalam segala jalan pikiran. Adapun yang benar itu hanya tindakan budi yang terang-benderang, yang disebutnya ideas claires et distinctes. 

Rasionalisme adalah aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikiran yang diturunkan dari idea. Pikiran manusia memiliki kemampuan untuk “mengetahui” idea tersebut, namun manusia tidak menciptakannya dan tidak mempelajarinya lewat pengalaman. Idea tersebut sudah ada di sana (daya nalar) sebagai kenyataan dasar dan fikiran manusia. Kaum rasionalis berdalil, bahwa fikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus “ada”, artinya, prinsip harus benar dan nyata. Jika prinsip tidak “ada” orang tidak mungkin akan dapat menggambarkannya.

Keragu-raguan atau kesangsian Descartes hanyalah sebuah metode, bukanlah ragu-ragu skeptis atau ragu-ragu sungguhan. Keraguan untuk mencapai kepastian, hanya rasio yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Mengenai apa dan siapa yang menjamin, idea itu benar adalah Tuhan itu sendiri, idea ialah pemberian Tuhan (Poedjawijatna, 1997). Sebab tak mungkin Tuhan memberi pedoman yang salah. Maka dari itu rasiolah alat pencari dan pengukur pengetahuan

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Malang dan Pegiat Literasi Komunitas GhaiBintang
Serta Guru SMP Integral Luqman Al-Hakim Sumenep

 

 

 

 

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.