PURNAMA DIBULAN AGUSTUS
Oleh : AMIK WIDYAWATI, S.Pd*
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Lelaki tua itu tak kunjung beranjak dari tempat duduknya. Tatapannya kosong menerawang jauh. Pikirannya gelisah dimainkan angin. Entah apa yang sedang berkecamuk di otaknya. Sesekali dia menyeruput kopi pahit buatan istrinya, lalu menghisap rokok lintingan sendiri yang tersemat diantara jemarinya. Aroma tembakau yang dibakar mengepulkan asap, membumbung tinggi sampai menembus lapisan langit ketujuh. Hanya kilau cahaya rembulan dan suara belalang malam yang menemaninya.
Lelaki tua itu bernama Karman. Usianya sudah menginjak 60 tahun lebih. Perawakannya kurus dengan kulit kecoklatan serta rambut yang sebagian sudah memutih. Meski sudah tak sekekar dulu lagi, tapi dia masih sanggup memikul cangkul menggarap lahan persawahannya. Karman memang bekerja sebagai petani. Ia tidak punya sawah sendiri, ia hanya menggarap sawah milik orang lain.Dan hasil panennya sebagian diberikan kepada pemilik sawah. Jangankan sawah, rumah yang dihuni pun sangat sederhana. Kehidupan Karman jauh dari kata mapan. Sumi, istri Karman bekerja serabutan sebagai buruh tani, terkadang juga dipanggil untuk buruh cuci.
Karman punya anak semata wayang. Setelah 20 tahun penantian panjang dan penuh kesabaran, akhirnya Allah SWT mengabulkan doa yang selama ini dipanjatkan, doa yang selalu terlantun dalam sujud, mereka dikaruniai putri cantik yang diberi nama Aisyah. Kini ia baru saja lulus SD dan ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Cita-citanya ingin bersekolah di SMP Islam favoritnya. Tapi Karman tak banyak uang untuk membelikan buku, tas, dan seragam baru untuk anaknya. Jangankan untuk membelikan perlengkapan sekolah yang baru, untuk biaya makan sehari-hari saja masih terbilang kurang. Meski kehidupannya berselimut kemiskinan, ia bertekad untuk menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang tertinggi. Karena baginya, pendidikan mampu mengangkat derajat dan martabat seseorang. Ia berharap, kelak anaknya mempunyai nasib yang jauh lebih baik darinya. Tiba-tiba Aisyah terbangun menghampiri bapaknya.
“Bapak kok belum tidur?” Karman hanya tersenyum. “Pak, kapan Aisyah di daftarkan ke SMP” lanjutnya.
“Sabar, Nak!” “InshaAllah bapak akan secepatnya mendaftarkanmu, siapa tahu besok bapak dapat uang untuk menyekolahkanmu” jelas Karman dengan suara parau karena menahan sesak di dada.
“Sekarang sudah larut malam, segera tidur sana!” perintah Karman.
Aisyah lalu melenggang menuju kamar tidur.
Malam semakin lama semakin larut. Karman masih melanjutkan pengembaraannya. Memandang bulan purnama bulat sempurna yang semakin kukuh terpancang di singgasana langit, sembari menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya bersama hela napas yang panjang. Karman tak ingin putrinya turut larut dalam kesedihannya. Cukup dia saja yang merasakan pahit kehidupannya. Kehidupan yang penuh dengan sayatan sembilu dan air mata.
Keesokan harinya
Kini angin malam telah berlalu. Kumandang adzan subuh telah bangunkan raga, setelah lelap menenun mimpi. Saatnya terjaga dari buaian, tuk tunaikan dua rakaat penghambaan pada Sang Khalik. Karman, Sumi, dan Aisyah segera bergegas menuju musala yang tak jauh dari rumahnya.
Sepulang dari musala, mereka berdoa bersama tak lupa untuk melantunkan Kalam Illahi. Mereka senantiasa bersyukur pada Sang Pencipta atas segala karunia ini, meski tak bergelimang harta, namun masih ada iman di dada.
Pagi ini matahari nampak begitu cerah, cahayanya menyibak dedaunan pohon mangga depan rumah Karman. Hari ini Sumi tidak menanak nasi karena tidak mempunyai uang dan beras sama sekali, yang ada hanya singkong rebus. Setelah menikmati sepotong singkong rebus lalu menyeruput kopi pahit, Karman segera memanggul cangkul untuk berangkat ke sawah. Tiba-tiba kepala desa dan dua orang aparatur desa mendatangi rumahnya.
“Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” jawab Karman sembari mempersilakan duduk di kursi lusuh miliknya.
Kepala desa beserta rombongan menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya. Karman, istrinya, dan Aisyah mendengarkan dengan seksama.
“Kami datang kemari untuk memberikan bantuan berupa dua karung beras dan sejumlah uang untuk membantu biaya sekolah Aisyah” jelas kepala desa. Setelah kalimat terakhir itu terucap, lelehan air mata keluarga Karman tak dapat dibendung. Tangis haru dan bahagia mewarnai pagi ini. Karman sujud syukur atas segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT melalui jalan yang tak disangka-sangka. Doa yang selama ini dilangitkan kini terkabul, Aamiin.
*Biodata Penulis
Nama lengkapnya Amik Widyawati, seorang pengagum senja dan hujan yang kini berdomisili di desa Gedungan-Sumenep. Ia mempunyai nama pena Awidy_Rose yang mencintai aksara seperti kelopak mawar yang mencintai embun. Penulis menitipkan namanya dibeberapa karya, diantaranya: Idul Fitriku, Dongeng Dunia Satwa, Selaksa Romantika Hujan, Story of Santri, Jejak Harap, Surat untuk Tuhan, Pesan Cinta, Perjuangan Ibu dan antologi puisi Sajak untuk Sang Pelita. Penulis juga bergabung dalam group guru penulis Sumenep (Gupens) yang telah menerbitkan dua antologi buku yaitu Sumbangsihku untuk Negeri dan Semalam Tak jadi Mimpi,. Penulis masih aktif mengajar di SDI Luqman Al Hakim Sumenep. Jejaknya bisa diikuti di medsos dengan nama yang sama.


Facebook Comments